Tampilkan postingan dengan label Makalah IPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah IPS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2014

MAKALAH TENTANG KONFLIK SOSIAL | TUGAS MAKALAH IPS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
       Konflik menjadi fenomena yang paling sering muncul karena konflik selalu menjadi   bagian   hidup   manusia     yang   bersosial   dan   berpolitik   serta menjadi pendorong dalam dinamika dan perubahan sosial-politik (Kornblurn, 2003:  294).  Konflik   memiliki   dampak  positif   dan   dampak   negatif,   dampak positif   dari   konflik   sosial   adalah   konflik  tersebut   memfasilitasi   tercapainya rekonsiliasi    atas   berbagai   kepentingan.  Kebanyakan   konflik   tidak   berakhir dengan      kemenangan      disalah   satu   pihak   dan  kekalahan     dipihak    lainnya.
       Konflik   yang   terjadi   di   Indonesia,   ada juga  yang  dapat   diselesaikan   dengan baik hingga berdampak baik bagi kemajuan dan perubahan masyarakat, akan tetapi  ada beberapa  konflik justru   berdampak   negatif   hingga  mengakibatkan timbulnya   kerusakan, menciptakan   ketidakstabilan,   ketidakharmonisan,   dan ketidakamanan bahkan sampai mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Dewasa ini   konflik   seringkali   terjadi   di   berbagai  elemen   masyarakat.  Hal   demikian dikarenakan berbagai latar belakang kebudayaan dan status sosial ekonomi.

B. Tujuan
       Dengan tersusunnya makalah ini penulis mempunyai tujuan bagi pembacanya yaitu:
1. Agar mengetahui penjelasan mengenai Konflik Sosial.
2. Agar mengetahui bentuk-bentuk mengenai Konflik Sosial.
3. Agar mengetahui Situasi-situasi mengenai Konflik Sosial.
4. Agar mengetahui cara penyelesaian mengenai Konflik Sosial

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Konflik Sosial
1.      Pengertian Konflik
            Koflik berasal dari kata kerja Latin, configure yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses social antara dua orang atau lebih (bsa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
            Secara umum konflik social merupakan suatu keadaan dimana masyarakat terjadi suatu pertikaian karena adanya persaingan maupun perbedaan yang terjadi dalam masyarakat. Dalam sosiologi banyak para tokoh menginterprestasikan konflik social berbeda-beda. Adapun penjelasan konflik social secara sosiologis adalah sebagai berikut:
a)      Menurut Berstein (1965)
            Konflik merupakan suatu pertentangan perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik mempunyai potensi yang memberikan pengaruh positif dan negative dalam interaksi manusia.
b)     Menurut Dr. Robert M.Z Lawang
            Konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan selain bertujuan memperoleh keuntungan juga untuk menundukan saingannya.
c)      Menurut Drs. Ariyono Suyono
            Konflik adalah proses atau keadaan terdiri dari du pihak yang berusaha saling menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing pihak.
d)     Dalam buku Sosiologi karangan James W. Wander Zandein
            Konflik diartikan sebagai suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntunan ha katas kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah tempat pihak yang saling berhadapan dan bertujuan untuk menetralkan, merugikan atau menjatuhkan lawan mereka.
e)      Menurut Soerjono Soekanto
            Konflik adalah suatu proses social dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dan disertai dengan ancaman dan kekerasan
2.      Faktor-Faktor Penyebab Konflik
a)      Perbedaan Individu
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi factor penyebab konflik social, sebab dalam menjalani hubungan social, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
b)     Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Dalam hubungan sosialnya, seseorang akan dipengaruhi oleh pola-pola pemikiran kelompoknya. Orang debesarkan dalam lingkunagn kebudayaan yang berbeda-beda. Ada yang diasuh dengan pola latihan kemandirian. Ada pula yang diasuh dalam lingkunagn keudayaan yang menerapkan pola ketergantungan.
c)      Perbedaan Kepentingan
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentinagn yang berbeda-beda.
d)     Perubahan-perubahan Nilai yang Cepat
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik social.
B. BENTUK-BENTUK KONFLIK
            Seorang ahli sosiolog, Soerjono Soekanto (1989:90) berusaha menklasifikasikan bentuk dan jenis-jenis konflik sebagai berikut:
1.      Konflik Pribadi
       Konflik terjadi dalam diri seseorang terhadap orang lain. Umumnya konflik pribadi diawali perasaan tidak suka terhadap orang lain, yang pada akhirnya melahirkan perasaan benci yang mendalam.
2.      Konflik Rasial
       Konflik rasial umumnya terjadi di suatu Negara yang memiliki keragaman suku dan ras.
3.      Konflik Antarkelas Sosial
       Terjadinya kelas-kelas di masyarakat karena adanya sesuatu yang dihargai, seperti kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan.
4.      Konflik Politik Antargolongan dalam Satu Masyarakat maupun antara Negara-negara yang Berdaulat
       Konflik politik terjadi karena setiap golongan di masyarakat melakukan politik yang berbeda-beda pada saat menghadapi suatu masalah yang sama.
5.      Konflik Bersifat Internasional
       Konflik internasional biasanya terjadi karena perbedaan-perbedaan kepentingan dimana menyangkut kedaulatan Negara yang saling berkonflik.
C. SITUASI-SITUASI KONFLIK
          Konflik yang terjadi di antara individu dalam menjalankan interaksinya banyak dibahas dalam studi psikologis social. Dalam kaitannya dengan cara pengelolaan konflik terdapat 3 tipe situasi konflik.
1.  Konflik Interindividu
     Penyebab dari konflik ini adalah benturan secara emosional antara individu dengan individu lain di dalam masyarakat. Ada dua penyebabnya yaitu kelebihan beban (role over loods) atau karena ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan peranan (person role).
2.  Konflik Antarindividu
     Dalam kehidupan masyarakat benturan kepentingan antarindividu selalu terjadi.
Jika benturan tersebut tidak termanajemen dengan baik maka akan timbullah konflik antar individu yang mengarah ke dalam kekerasan.
3. Konflik Antarkelompok
       Masyarakat Indonesia seringa mengalami jenis konflik demikian. Kasus di Sambas, Papua, dan Ambon merupakan bagian konflik kelompok yang dikarenakan dengan perbedaan dalam menjalani kehidupan. Konflik antarkelompok bias dihindari jika setiap kelompok saling memahami keneradaannya dan juga dapat mempersempit perbedaan.
D. PENYELESAIAN KONFLIK
          Konflik social dalam masyarakat harus dapat diselesaikan agar keutuhan masyarakat dapat dipertahankan. Penyelesaian konflik tidak bias dilaksanakan dengan waktu yang singkat. Penyelesaian harus dilakukan dengan berbagai cara dan dalam tempo yang sama.
          Dalam ilmu sosiologi untuk menyelesaikan suatu konflik dilakukan dengan berbagai tahap. Tahapan ini harus dilaksanakan secara berurutan dengan tidak boleh dilewatkan. Hal ini dikarenakan setiap tahapan saling melengkapi tahapan yang lainnya. Adapun tahapan dalam menyelesaikan konflik adalah sebagai berikut:
1.    Tahap Akomodasi
  Pada tahapan ini adalah pelaksaan untuk meyakinkan masyarakat agar tidak melakukan konflik dengan cara mengurangi pertentangan dan peleburan atau penyatuan terhadap kelompok yang bertikai melalui suatu lembaga penengah.
2.      Tahap Kerjasama
Kerjasama adalah suatu keadaan dimana adanya suatu kegiatan bersama antara kedua individu dalam masyarakat, tahap kerjasama dilakukan setelah proses akomodasi berhasil sehingga masyarakat sudah mulai melakukan pendekatan baik secara mandiri maupun berkelompok.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Semua lapisan masyarakat di dunia pernah mengalami konflik. Secara teortis konflik sosial sebenarnya membawa manfaat yang baik bagi masyarakat hanya saja cara dan jalannya kebanyakan mengarah ke dampak negative. Sehingga di masyarakat banyak terjadi kerusuhan di mana-mana. Konflik sosial juga membawa dampak positif walaupun pada kenyataannya yang terjadi dimasyarakat kebanyakan dampak negative.
B. Saran
Sebaiknya kita sebagai bangsa dan negara yang beragama dan juga bernegara hukum, seharusnya kita berusaha menghindari adanya konflik sosial di antara masyarakat, agar Negara kita ini  bisa menjadi Negara yang penuh dengan kedamaian, kerukunan dan bebas dari segala jenis konflik dan pertentangan.
Baca SelengkapnyaMAKALAH TENTANG KONFLIK SOSIAL | TUGAS MAKALAH IPS

MAKALAH TENTANG PENYAKIT SOSIAL DI MASYARAKAT | MAKALAH IPS

BAB I
PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang
Penyakit sosial adalah perilaku dari anggota masyarakat yang dapat menimbulkan keresahan dan ketidaktentraman dalam kehidupan masyarakat.Penyakit sosial di masyarakat saat ini sudah semakin marak di kalangan masyarakat dan sangat meresahkan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Contoh dari penyakit social adalah perjudian, perkelahian atau tawuran, penyalah gunaan narkoba atau NAPZA, alkoholisme atau mabuk-mabukan, pelacuran, korupsi, dan masih banyak lagi penyakit sosial yang terjadi di masyarakat saat ini. Kami mengambil materi ini karena kami ingin masyakat mengetahui macam-macam penyimpangan sosial di masyarakat, penyebabnya, dan cara pengendalian penyakit sosial di masyarakat.

1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian penyakit sosial?
2.Apa jenis-jenis penyakit sosial?
3.Apa faktor penyebab penyakit sosial?
4.Bagaimana cara pengendalian penyakit sosial di masyarakat?

1.3. Tujuan
1. Menjelaskan definisi penyakit sosial.
2. Menjelaskaskan jenis-jenis penyakit sosial.
3. Mengetahui faktor-faktor penyebab penyakit sosial.
4.Mengetahui cara pengendalian penyakit sosial di masyarakat.



BAB II
PENYAKIT SOSIAL DI MASYARAKAT

2.1. Pengertian Penyakit Sosial
Penyakit sosial adalah perilaku dari anggota masyarakat yang dapat menimbulkan keresahan dan ketidaktentraman dalam kehidupan masyarakat. Penyakit sosial timbul karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang terhadap norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Pelanggaran terhadap norma dan aturan masyarakat inilah yang kemudian dikenal dengan penyimpangan sosial.

2.2. Jenis-Jenis Penyakit Sosial
Berikut ini adalah contoh dari perilaku masyarakat yang tergolong penyakit sosial karena melanggar norma masyarakat, norma-norma hukum dan agama antara lain :

2.2.1 Perjudian
          Perjudian adalah pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan suatu nilai atau yang dianggap bernilai dengan menyadari adanya sebuah resiko dan harapan tertentu pada peristiwa permainan,pertandingan,perlomban dan kejadian yang belum pasti hasilnya. Jenis judi bermacam-macam dari yang sembunyi-sembunyi sampai terbuka.  Contoh : Sabung ayam dikalangan masyarakat.

2.2.2. Perkelahian/Tawuran
          Tawuran lebih sering terjadi pada kalangan pelajar, mulai dari anak SD,SMP,SMA,juga mahasiswa. Bahkan tidak sering sampai mengorbankan korban jiwa jiwa. Pada umumnya sering terjadi karena hal sepele seperti saling mengejek, rebutan pacar, masalah pertemanan dan lain-lain. Tawuran antar pelajar atau antar sekolah merupakan perbuatan yang sangat tidak pantas. Tetapi tawuran kerap terjadi juga antar warga masyarakat,seperti yang terjadi di wilayah Indonesia bagian timur. Hal ini tentu sangat tidak baik bagi perkembangan sosial.

2.2.3 Penyalahgunaan Narkoba/Napza
          Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) merupakan zat atau obat-obatan yang berpengaruh terhadap susunan syaraf atau otak.Terkadang dipakai dokter untuk membius pasien operasi,tentunya dengan takaran tertentu. Apabila pemakaiannya disalahgunakan akan menimbulkan ketagihan dan merusak menimbulkan ketidakmampuan dan fungsi sosial, pekerjan, dam sekolah. Penggunaan narkoba akan berdampak negatif terhadap fisik dan mentals seseorang, bahkan Napza menimbulkan segudang masalah seperti pelacuran (PSK), kriminal bahkan paling berpotensi menularkan penyakit HIV/AIDS. Para Pelajar hendaknya selalu waspada terhadap bahaya naarkoba karena akan menghancurkan masa depan generasi bangsa.

2.2.4. Alkoholisme/Mabuk-Mabukan
          Alkoholisme adalah orang yang kecanduan minum minuman keras yanag mengandung alkohol dalam dosis yang tinggi. Konsumsi alkohol yang berlebihan akan berdampak negatif bagi kesehatan karena mengganggu sistem syaraf. Akibatnya dia tidak dapat mengendalikan diri baik secara psikologis, fisik maupun sosial. Alkoholisme dapat mengakibatkan kejahatan beruntun seperti perkelahian, penodongan, pemerkosaan, dan lain-lain.Di Indonesia pesta miras sering dilakukan dan sering mengorbankan korban jiwa yang tidak sedikit. Berbeda dengan orang luar negeri yang meminum minuman yang mengandung alkohol pada saat musim dingin untuk menghangatkan tubuhnya, dan tentunya dengan takaran tertentu.

2.2.5.  Pelacuran
          Pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks dengan imbalan bayaran uang, Pelacuran atau sekarang dikenal dengan istilah Pekerja Seks Komersial (PSK) berpotensi menularkan penyakit HIV/AIDS, selain itu dapat juga menimbulkan :
a.     Penyakit kelamin,
b.     Merusak kehidupan keluarga,
c.      Merusak moral, hukum, susila,dan agama,
d.     Adanya eksploitasi manusia oleh manusia lainnya, bahkan sekarang dikenal dengan istilah “Trafficking” yaitu penjualan manusia oleh manusia.
e.      Mendorong kriminalitas dan kecanduan narkoba.

2.2.6. Korupsi
          Korupsi berasal dari bahas latin “Corruptio” atau “Corrumpere” yang berarti buruk, busuk, rusak, menggoyangkan atau memutar balikan. Korupsi merupakan perilaku penyelewengan dari tugas tertentu yang sengaja dilakukan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompoknya baik uang maupun harta kekayaan.Bentuk-bentuk korupsi antara lain : penyogokan , penggelapan,  pemutar balikan fakta, penipuan ataupun penggunaan uang negara secara tidak semestinya. Korupsi merugikan kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, mapun negara. Di Indonesia saat ini korupsi marak terjadi, dan dilakukan oleh pejabat baik pejabat pusat maupun daerah. Dan ini sangat merugikan masyarakat dan negara.
Selain itu beberapa perilaku penyakit sosial lainnya adalah mencuri, menipu, pembunuhan, pemerasan, pornografi dan pornoaksi, perilaku seks diluar nikah, seks bebas, kumpul kebo dan lain-lain.

2.3. Faktor Penyebab Penyakit Sosial
Banyak faktor yang dapat menjadikan alasan seseorang melakukan penyimpangan sosial.
Beberapa penyebab penyimpangan social tersebut antara lain :
1.     Struktur keluarga yang tidak utuh (broken home)
Ketidak harmonisan keluarga yang di akibatkan oleh keadaan keluarga yang berantakan dapat mendorong individu melakukan perilaku menyimpang.
2.     Faktor ekonomi keluarga
Tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi dapat menjadikan seseorang menghalalkan segala cara agar kebutuhan ekonominya terpenuhi tanpa menghiraukan aturan dan norma masyarakat.
3.     Pelampiasan rasa kekecewaan
Pelampiasan rasa kekecewaan dapat menimbulkan perilaku di luar kendali orang yang bersangkutan.
4.     Pengaruh lingkungan masyarakat
Lingkungan akan mempengaruhi perilaku anggota masyarakatnya.
Contoh : Orang yang hidup di lingkungan pejudi akan cenderung ikut berjudi.
5.     Pengaruh kemajuan IPTEK
Kemajuan iptek di bidang telekomunikasi dan informasi menjadikan media massaseperti TV, Film, CD/DVD, majalah , koran, buku, internet dan lain-lain akrab dalam kehidupan masyarakat. Namun tidak jarang apa yang di sajikan dalam tayangan film, sinetron, majalah, internet dan lain-lain tidak sesuaidengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat bahkan kini penyimpangan social juga terjadi akibat jejaring social facebook seperti terjadinya penculikan, pemerkosaan dan penipuan.
6.     Proses sosialisasi nilai nilai kebudayaan yang menyimpang
Perilaku menyimpang dapat bersumber dari pergaulan melalui proses alih budaya. Melalui proses ini anak menyerap suatu sub kebudayaan menyimpang dari kelompok atau lingkungan tertentu dalam masyarakat.
7.     Ketidak sanggupan menyerap nilai dan norma yang berlaku
Pada umumnya terjadi pada kelompok pendatang baru yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan adat dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya.Ketidaktahuan akan norma yang berlaku dapat menyebabkan perilaku menyimpang.
8.     Anak yang putus sekolah.

2.4. Cara Pengendalian Penyakit Sosial di Masyarakat
Agar anggota masyarakat tidak melakukan penyimpangan sosial di perlukan adanya peran dari masyarakat untuk mencegah atau mengatasi penyakit sosial yang di lakukan anggota masyarakat.
Cara pengendalian penyakit social untuk mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang yaitu dengan cara :
1.     Melakukan penyuluhan atau ceramah keagamaan,
2.     Hukuman, baik hukuman social maupun pidana,
3.     Membimbing atau mengajak berupa anjuran dengan sopan dan tidakmemaksa,
4.     Dengan menekankan norma-norma yang baik yang berlaku di daerah tersebut,
5.     Menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif,
6.     Menyampaikan nilai, norma dan aturan secara berulang-ulang. Penyampaian pesan ini dapat di lakukan melalui ceramah, papan informasi, spanduk atau menggunakan media massa dan audio visual.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Penyakit sosial adalah perilaku dari anggota masyarakat yang dapat menimbulkan keresahan dan ketidak tentraman dalam kehidupan masyarakat. Penyakit sosial timbul karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang terhadap norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Pelanggaran terhadap norma dan aturan masyarakat inilah yang kemudian dikenal dengan penyimpangan sosial. Contoh beberapa perilaku penyakit sosial adalah mencuri, menipu, pembunuhan, pemerasan, pornografi dan pornoaksi, perilaku seks diluar nikah, seks bebas, kumpul kebo dan lain-lain. Cara yang utama untuk mencegah melakukan penyimpangan socialadalah dengan bertaqwa kepadaTuhan YME.

3.2. Saran
Pencegahan perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat harus di lakukan sedini mungkin dan harus melibatkan peranan orang tua , lembaga pendidikan, lembaga pemerintah dan masyarakat. Beberapa tindakan pencegahan yang dapat di lakukan antara lain :
A.   Penanaman agama sedini mungkin,
B.   Menjaga keluarga yang harmonis,
C.   Pergaulan yang baik dan tidak menyimpang,
D.   Pendidikan yang bermutu dan terjamin,
E.    Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

DAFTAR PUSTAKA
Buku IPS Terpadu PILA Untuk SMP/MTS Kelas 8 Semester 1
Baca SelengkapnyaMAKALAH TENTANG PENYAKIT SOSIAL DI MASYARAKAT | MAKALAH IPS

Senin, 17 November 2014

MAKALAH TENTANG PERMASALAHAN- PERMASALAHAN GLOBAL | IPS

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Perubahan yang sangat cepat yang dialami masyarakat seiring dengan berkembangnya jaman yang dibarengi bertambahnya tingkat pemahaman dan juga pengetahuan manusia di bidang Sains dan Teknologi telah membawa banyak dampak bagi kehidupan manusia secara umum baik positif maupun negatif. Untuk mengiringi kemajuan yang berjalan sangat cepat samapai saat ini kita masih menggantungkan harapan pada pendidikan untuk tetap mengawal dan menjaga kehidupan sosial masyarakat yang terus berubah. Namun dunia pendidikan kita yang masih belum bisa mengejar cepatnya arus perubahan itu perlu disesuaikan dan jga dijaga sehingga tetap mampu menjawab tantangan dari perubahan dan kemajuan yang terus terjadi.
Dalam bidang pendidikan, Pendidikan Ilmu Sosial juga tidak lepas dari tantangan yang sangat keras yang berupa tuntutan akan adanya perbaikan kualitas pendidikan dan juga tenaga kependidikan. Melihat kondisi yang dihadapi dan memang harus dilewati tersebut maka sudah sepantasnya Pendidikan Ilmu Sosial mulai membenahi diri baik dari bergeser dari tatanan epistomologi kea rah pengembangan inovasi dan juga solusi bagi perkembangan pendidikan IPS ke depannya.  Dimana hal ini sangatlah sesuia dengan tujuam utama pendidikan IPS yaitu mempersiapkan warga negara yang dapt membuat keputusan reflektif dan berpartisipasi dengan sukses dalam kehidupan kewarganegaraandi lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam pembelajaran IPS, peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengetahuan, pengalaman-pengalaman dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan demokratis, termasuk memperaktekkan berpikir dan pemecahan masalah (Aziz, 2002).
Pembelajaran IPS di sekolah juga belum berupaya melaksanakan dan membiasakan pengalaman nilai-nilai kehidupan demokratis, sosial kemasyarakatan dengan melibatkan siswa dan komunitas sekolah dalam berbagai aktifitas kelas dan sekolah. Selain itu dalam pembelajran IPS lebih menekankan pada aspek pengetahuan, fakta dan konsep-konsep yang besifat hapalan belaka. Inilah yang dituding sebagai kelemahan yang menyebabkan “kegagalan” pembelajaran IPS di sekolah-sekolah di Indonesia.
Jika pembelajaran IPS selama ini tetap diteruskan, terutama hanya menekankan pada informasi, fakta, dan hafalan, lebih mementingkan isi dari proses, kurang diarahkan pada proses berfikir dan kurang diarahkan pada pemeblajaran bermakna dan berfungsi bagi kehidupannya, maka pembelajaran IPS tidak akan mampu membantu peserta didiknya untuk dapat hidup secara efektif dan produktif dalam kehidupas masa yang akan datang. Oleh karena itu sudah semestinya pembelajaran IPS masa kini dan ke depan mengikuti berbagai perkembangan yang tejadi di dunia secara global.
B.            Rumusan Masalah
1.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan penduduk dan keluarga berencana.
2.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan pembangunan.
3.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan Hak Asasi Manusia (HAM)
4.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan migrasi.
5.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan kepemilikan bersama secara global.
6.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan lingkungan hidup dan sumber daya alam.
7.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan kelaparan dan bahan pangan.
8.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan perdamaian dan keamanan.
9.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan prasangka dan diskriminasi.
C.           Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan penduduk dan keluarga berencana.
2.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan pembangunan.
3.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan Hak Asasi Manusia (HAM).
4.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan migrasi
5.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan kepemilikan bersama secara global.
6.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan lingkungan hidup dan sumber daya alam
7.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan kelaparan dan bahan pangan.
8.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan perdamaian dan keamanan.
9.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan prasangka dan diskriminasi.




BAB II
Masalah-masalah Global dalam Pembelajaran IPS SD
Berkenaan dengan masalah-masalah global, Merry M.Merryfield (1997: g) antara lain mengemukakan penduduk dan keluarga berencana (population and family planning), pembangunan (development), hak asasi manusia (human right), imigrasi (emigration, immigration, refugees), kepemilikan bersama global (the global commons), kelaparan dan bahan pangan (hunger and food), perdamaian dan keamanan (peace security), prasangka diskriminasi (prejudice and discrimination). Masalah-masalah tersebut langsung ataupun tidak langsung, beberapa di antaranya telah kita bahas. Namun demikian, sambil jalan pada diskusi ini, akan kita singgung lagi. Bobot dan lingkupnya tentu saja disesuaikan dengan kemampuan kita , dan kemampuan peserta didik yang anda hadapi.
A.                Penduduk dan Keluarga Berencana
Masalah penduduk da pelaksanaan keluarga berencana sebagai upaya mengatasi masalahnya, bukan lagi hanya dialami oleh kelompok masyarakat tertentu dan negara-negara tertentu, melainkan terlah menjadi masalah yang dirasakan, disadari serta dialami oleh negara-negara diseluruh dunia. Masalah penduduk terletak pada tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang rendah sebagai akibat adanya kesenjangan yang besar antara pertumbuyhan serta jumlah penduduk yang terus meningkat dengan pertumbuhan segala kebutuhan yang terbatas. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan untuk meyeimbangkan dan menaggulanginya termasuk program keluarga berencana masih belum berhasil. Program dan bahkan gerakan keluarga berencana sebagai usaha membatasi tingginya pertumbuhan penduduk masih mengalami hambatan, baik psikologi, sosial, budaya, maupun ekonomi. Pelaksanaan KB secara berlanjut dan bersinambungan, mendapat kendala dari berbagai pihak, baik pihak penduduk sendiri maupun pihak lembaga yang mengelola dan membiayainya. Belum lagi kita berbicara tentang kesempatan dan lapangan kerja, kesediaan dan persediaan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, serta layanan lain yang terkait dengan kebutuhan dan kesejahteraan penduduk. Cobalah anda selaku guru IPS amati, hayati dan analisis kondisi kependudukan dalam keluarga serta keadaan dimasyarakat sekitar anda sendiri. Kemudian lebih jauh lagi, coba anda serap informasi dari berbagai media keadaan kependudukan dinegara lain di dunia ini.
B.                 Pembangunan
Sebagai suatu konsep, pembanguanan itu merupakan upaya berencana meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya untuk kebanyakan negara-negara yang miskin didunia, menjadi masalah. Masyarakat dan negara-negara yang miskin yang seharusnya melakukan pembangunan untuk mengetaskan diri dari kemiskinan, justru tidak mampu melaksanakannya. Pembangunan sebagai rangkaian kegiatan perencanaan- pengkajian – uji kelayakan – pengelolaa – pelaksanaan – evaluasi, memerlukan SDM yang handal, dana yang mendukung, dan suasana yang kondusif. Untuk memenuhi tuntutan perangkat yang demikaian, bagi kebanyakan negara-negara didunia, menjadi masalah, apalagi untuk “pembangunannya sendiri”. Apabila tidak ada upaya tingkat global melalui lembaga-lembaga dunia, bagi negara-bangsa miskin dan terbelakang, masalah pembangunan ini menjadi “lingkaran setan”yang tidak akan berhenti. Dengan demikian pembangunan yang seharusnya menjadi upaya pemecahan masalah, untuk negara-negara terbelakang dan miskin, justru menjadi masalah. Dan hal ini, SDM dengan kualitas kemampuannya, menjadi kunci utama.
C.                Hak Asasi Manusia (HAM)
HAM merupakan hal yang melekat pada setiap diri manusia, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagi warga negara-negara dan warga dunia. Mengenai HAM ini telah kita diskusikan pada modul nomer 4yang lalu. Namun disini kita perlu mempertanyakan kembali, mengapa HAM yang melekat pada diri tiap orang itu menjadi maasalah, bahakan menjadi masalah global? Persoalannya terletak pada pelanggaran yang terjadi dan dialami oleh orang-orang tertentu baik sebagai individu maupun sebagai kelompok oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kekuasaan atau yang berkuasa. Pelanggran ini telah terjadi secara lokal di kawasan-kawasan tertentu, di negara-negara tertentu, bahkan juga tingkat dunia. Cobalah anda amat, dengarkan dan perhatikan disekeliling kita semua, bahkan mungkin dialami oleh kita sendiri. Oleh karena itu, kita masing-masing harus menyadari hak dan kewajiban, dan memahami serta menghormati hak dan kewajiban orang lain. Lebih jauh lagi kita harus berupaya memberikan pengertian dan kesadaran kepada peserta didik atas hak dan kewajiabannya. Proses yang demikian itu juga ditunjukkan kepada masyarakat awam yang biasanya menyadari kewajibannya, seshingga mereka menjadi sasaran pihak-pihak yang berupaya memanfaatkan. Upaya penegakkan HAM ini harus dilakukan oleh tiap warga untuk menjegah dan memecahkan masalah atas pelanggarannya.
D.                Migrasi
Migrasi sebagai suatu gerak pindah penduduk yang menjadi masalah global, paling tidak, meliputi emigrasi (perpindahan penduduk menuju negara lain yang akan menetap di negara baru tersebut), imigrasi (perpindahan penduduk dari suatu negara ke dalam negeri tertentu yang  diperkirakan akan menetap di negeri terakhir), dan pengungsian (perpindahan negara lain karena faktor tertentu yang mendesak).  Orang-orang yang berpindah akan membawa masalah ekonomi (lapangan kerja, kekurangan bahan pangan), masalah politik (perang saudara, perbedaan ideologi. Bagi kawasan atau negara yang didatangi akan menjadi masalah karena berkaitan dengan pemenuhan segala kebutuhan para pendatang, mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, bahan pangan dan sebagainya. Belum lagi dari keyakinan politik yang dianut, kriminalitas, dan kemungkinan wabah penyakit yang mereka bawa. Masalah tersebut berdampak luas dalam berbagai aspek kehidupan diantara dua belah pihak.

E.                 Kepemilikan Bersama Secara Global
Tiap kawasan dengan kawasan lain terdapat apa yang ditetapkan sebagai batas wilayah (darat, perairan, udara). Namun dalam konteks dunia global, khususnya yang berkenaan dengan samudra dan udara terbuka merupakan milik seluruh umat manusia yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Kenyataannya samudra dan udara terbuka itu menjadi sengketa yang dapat menimbulkan masalah besar. Oleh karena itu, hal yang sesungguhnya menjadi milik bersama umat manusia, yang tidak dapat diklaim oleh pihak manapun dan harus diatur bersama secara global oleh hukum Internasional.
F.                 Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam
Lingkungan hidup dengan sumber daya alam merupakan dua hal atau dua pihak yang terkait satu sama lain, bahkan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Lingkungan hidup bagi kita manusia adalah “kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang memperngaruhi kelangsungan perkehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (UURI No.4/1982:3).Lingkungan hidup itu meliputi hal-hal yang sangat luas mencakup segala apa yang ada disekeliling kita manusia, bahkan termasuk manusia yang ada diluar diri kita masing-masing. Oleh karena itu, lingkungan hidup ini dapat dikelompokkan menjadi lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya dan lingkungan psikologi. Sumber daya menurut Undang-Undang  Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1982 adalah “unsur lingkungan  hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alami hayati, sumber saya alami non hayati dan sumber daya buatan. Dengan demikian, sumber daya itu, tidak lain adalah unsur lingkungan yang terdiri atas berbagai benda, baik hidup (manusia, tumbuhan, hewan), dan yang tidak hidup (mineral, udara, gas, energi) yang menjamin kehidupan umat manusia. Apabila kita tetapkan air terjun, hutan, udara dan pesawat sebagai benda atau fenomena yang menjamin kehidupan kita manusia, kita nyatakan pula sebagai “sumber daya”. Oleh karena itu, benda atau fenomena yang sama, dapat kita sebut sebagai lingkungan dan dapat pula kita nyatakan sebagai sumber daya tergantung dari sudut pandang yang kita tetapkan. Sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk manusia dengan segala kebutuhannya, lingkungan sebagai sumber daya, secara alamia tidak dapat lagi menjamin kehidupan manusia. Tanpa penerapan dan pemanfaatan IPTEK dalam merekayasa lingkungan sebagai sumber daya, kesejahteraan umat manusia tidak dapat dijamin. Penerapan dan pemanfaatan IPTEK tersebut bermata atau dilematis.  Ada pihak yang menyatakan bahwa IPTEK  itu menjadi “tulang punggung kesejahteraan”. Pemanfaatan IPTEK juga telah membawa dampak negatif atau laknat dalam bentuk masalah lingkungan seperti pencemaran, banjir, tanah longsor, dan kenaikan suhu global. Oleh karena itu, kita umat manusia harus penuh kewaspadaan dalam menerapkan dan memanfaatkan IPTEK sesuaii dengan asas-asas keserasian, keseimbangan dan kelestarian. Masalah lingkungan dan pengurasan sumber daya alam, bukan lagi hanya merupakan masalah lokal, regional ataupun nasional, melainkan telah meyakini sebagai masalah global yang telah menjadi perhatian kepeduliaan masyarakat dunia.
G.                Kelaparan dan Bahan Pangan
Kelaparan dan keterbatasan persediaan bahan pangan, merupakan masalah yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan umat manusia, baik lokal dan regional maupun global. Bertolak dari pertumbuhan penduduk dunia yang tidak akan berhenti, meskipun di berbagai kawasan tingkat rata-ratanya sudah sangat menurun, bahkan ada yang menerapkan konsep “pertumubuhan nol” (zero growth), namun kenyataannya penduduk dunia itu jumlahnya terus meningkat. Menurut perhitungan dan proyeksi Population Reference Bereau (World Population Data Sheet,1997), penduduk dunia tahun 1997 jumlahnya 5,840 miliar, tahun 2010 sebanyak 6,894 miliar dan pada tahun 2025 yang akan datang akan mencapai 8,036 miliar. Jumlah penduduk dunia yang terus meningkat seperti itu, sudah pasti diikuti oleh pertumubuhan kebutuhan hidupnya, paling tidak kebutuhan pangan. Oleh karena itu, peningkatan produksi pangan, khususnya produksi pertanian bahan pangan, menjadi tuntutan. Segala metode, pendekatan, teknik dan teknologi telah diterapkan pada bidang pertanian dalam upaya meningkatkan produksi bahan pangan tadi, baik pada tingkat lokal dan regional maupun pada tingkat dunia.
H.                Perdamaian dan Keamanan
Perdamaian dan keamanan adalah dua aspek sosial-psikologis yang sangat mendasar serta didambakan oleh setiap individu umat manusia. Namun demikian sangat sulit terealisasikan secara wajar dalam kehidupan. Kita dapat menghayati apa yang terungkap dalam pepatah “lain di bibir, lain di hati”, apa yang menjadi perbincangan tentang “perdamaian” berbeda dengan kenyataan. Perlombaan senjata dan mempersenjatai diri dengan dalih “senjata untuk perdamaian” yang tidak hanya dilakukan oleh negara-negara adikuasa-melainkan juga oleh negara-negara “kecil”, merupakan petunjuk bahwa perdamaian itu seperti “telur di ujung tanduk”. Kita dapat menyimak dan mengamati “perlombaan senjata” antara Korea Utara dan Korea Selatan , antara Israel dan negara-negara Arab, menunjukkan kerawanan terhadap perdamaian yang sewaktu-waktu dapat meletus. Oleh karena itu, keamanan dan perdamaian sukar terealisasikan, bahkan lebih merupakan “ kerawanan global” yang sewaktu-waktu dapat meletus yang tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang bersangkutan, melainkan juga oleh seluruh dunia. Kerawanan-kerawanan terhadap perdamaian dan keamanan, bermula dari pertentangan etnis ke pertentangan rasial, pertentangan politik ke ekonomi, dari ambisi-gengsi-arogansi elit yang berkuasa tingkat nasional ke tingkat regional sampai ke tingkat global yang meresahkan perdamaian serta mengganggu keamanan global.
I.                   PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
     Masalah prasangka dan diskriminasi, meliputi aspek-aspek etnis (kesukuan), ras, kelas, jenis kelamin (gender), agama, ekonomi dan politik. Kecemburuan sosial, ekonomi dan politik, tidak hanya terjadi secara lokal di kawasan-kawasan yang terbatas, melainkan terjadi secara global yang meresahkan umat manusia. Prasangka dan diskriminasi yang mendorong negara-negara tertentu seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Iran, India, Pakistan, Korea Selatan dan Utaramelengkapi diri dengan senjata mutakhir sebagai pencerminan “sikap prasangka dan diskriminasi”, dapat menjadi pemicu “perang modern” yang tidak mustahil dapat memusnahkan sebagian umat manusia. Hal inilah yang wajib diwaspadai secara sungguh-sungguh oleh seluruh umat manusia, terutama oleh kelompok-kelompok elit yang memegang kebijakan di tingkat dunia. Secara mendasar tentu saja hal tersebut harus mulai ditanamkan sejak dini di tingkat sekolah dasar. Anak-anak di tingkat SD inilah yang akan menjadi SDM masa yang akan yang idealnya bersih dari sikap dan tindakan prasangka serta diskriminasi. Itulah harapan kita bersama.
     Antara satu negara dengan negara lain, antara negara maju dengan negara berkembang pasti memiliki perbedaan permasalahan. Kunci perbedaan itu terutama terletak pada kualitas SDM menerapkan IPTEK dalam memanfaatkan SDA untuk kesejahteraan hidup masing-masing. Kualitas SDM disini juga tercermin dari tingkat pendidikan yang telah dicapai masyarakat, tingkat gizi, tingkat kesehatan, baik kesehatan fisik-jasmaniah maupun kesehatan lingkungan hidup pada umumnya. Disini berlaku konsep “sumber daya dibatasi secara budaya” (culturally defined resources), dengan pengertian bahwa terealisasikannya potensi SDA menjadi kesejahteraan masyrakat dan negara sangat dipengaruhi oleh kemampuan budaya manusia, mengolah sumber daya tadi.
     Dari uraian singkat di atas dapat tercermin bahwa perbedaan yang mendasar antara negara-negara maju yang juga negara industri dengan negara-negara berkembang yang tingkat industrinya masih terbatas terletak pada kualitas kemampuan SDM-nya dalam menguasai dan memanfaatkan IPTEK.
     Pendidikan yang meningkatkan kualitas kemampuan SDM inilah yang mampu mempersempit jarak perbedaan antara masyrakat negara-negara berkembang dengan masyarakat negara-negara maju yang memperkecil kesenjangan kehidupan sosial-ekonomi diantara keduanya.
     Perbedaan, termasuk perbedaan kepentingan, merupakan hal yang wajar dan alamiah. Namun perbedaan yang menimbulkan pertikaian dan konflik, harus kita cari jalan keluarnya. Upaya mencari jalan keluar itu terutama didasari oleh “persamaan” kemanusiaan yang sangat wajar. Oleh karena itu, ditinjau dari persamaan kemanusiaan tersebut, perbedaan tadi bahkan harus menjadi landasan terjadinya kerja sama. Dengan anggapan dasar bahwa tidak ada satu pihak pun (perorangan, keluarga, kelompok, masyrakat, bangsa, negara) yang mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya sendiri, bagaimanapun selalu memerlukan bantuan pihak lain.
     Menciptakan masyrakat dunia yang aman dan damai, tidak dapat berjalan tanpa kerja sama tadi. Negara industri yang kaya, tidak dapat melangsungkan kehidupannya secara wajar tanpa kerja sama ekonomi dengan negara lain, baik untuk memasarkan barang industrinya maupun untuk mendapatkan bahan mentah dan bahan dasar demi kelangsungan industri tersebut. Negara-negara agraris, tidak akan dapat melangsungkan kehidupannya secara wajar tanpa kerja sama dengan negara-negara industri yang memasok barang-barang industri dan membeli hasil pertanian dari negara agraris yang bersangkutan. 
     Oleh karena itu, kerja sama antarnegara dan antarwilayah, merupakan suatu proses kemanusiaan yang sangat bermakna. Dalam kehidupan global dewasa ini, kerja sama yang saling menguntungkan dalam bentuk “saling ketergantungan” (interdependensi) harus dibina secara berkesinambungan dalam upaya menciptakan kehidupan masyarakat dunia yang aman, damai dan sejahtera.
     Menyebarnya informasi dari waktu ke waktu yang menembus batas-batas negara, benua, samudera dan udara, mengakibatkan wawasan masyarakat terhadap peristiwa dunia makin terbuka. Langsung tidak langsung suasana yang demikian berpengaruh terhadap pergeseran nilai dan norma yang berlaku. Arus informasi yang mengglobal yang berdampak pada pergeseran norma dan nilai, harus kita waspadai melalui penyaringan oleh norma-nilai yang baik yang melekat dalam masyarakat Indonesia.
     Dengan memahami perbedaan dan persamaan kebudayaan tadi, akan menumbuhkan saling pengertian, sehingga “tercipta” saling menghargai antarkebudayaan yang ada di permukaan bumi ini. Dengan cara yang demikian itu, akan tumbuh kepercayaan dan keyakinan bahwa “tidak ada suatu kebudayaan pun yang lebih rendah daripada kebudayaan lainnya di dunia ini” ataupun sebaliknya “tidak ada suatu kebudayaan pun yang lebih tinggi daripada kebudayaan lainnya”. Yang ada hanyalah perbedaan gradual antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain, khususnya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
     Gagasan-gagasan baru tentang hidup dan kehidupan global, harus berlandaskan nilai akhlak mulia yang menjadi dasar kemanusiaan yang “sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, yang dibedakan oleh kadar iman dan takwa kepada-Nya. Hal inilah yang harus diangkat sebagai nilai global dalam hidup dan kehidupan hari ini serta di hari-hari mendatang. Hal mendasar inilah yang harus menjadi perhatian kita dalam membina dan mengembangkan perspektif global pada diri masing-masing, terutama pada diri anak didik yang menjadi tanggung jawab kita bersama. 



BAB III
PENUTUP

            Merry M.Merryfield (1997: g) antara lain mengemukakan penduduk dan keluarga berencana (population and family planning), pembangunan (development), hak asasi manusia (human right), imigrasi (emigration, immigration, refugees), kepemilikan bersama global (the global commons), kelaparan dan bahan pangan (hunger and food), perdamaian dan keamanan(peace security), prasangka diskriminasi (prejudice and discrimination).




DAFTAR PUSTAKA

Sumaatmadja, Nursid, dkk. 2012. Perspektif Global. Jakarta:Universitas Terbuka
  
Baca SelengkapnyaMAKALAH TENTANG PERMASALAHAN- PERMASALAHAN GLOBAL | IPS

Makalah IPS